Senin, 04 Februari 2019

      Aku Dan Stasiun Kereta Di Malam Hari


     Hari itu cuaca malam hari, tak berbintang. Kadang angin berhembus kencang, membawa hawa dinginnya yang menusuk. Orang pastinya tak mau bepergian pada cuaca yang seperti itu. Tapi, lain halnya dengan Aku dan Ibuku. Kami pergi ke stasiun kereta Jatibarang, malam itu. Melawan hawa dingin, dan suara guntur yang kadang terdengar.

     Kami pergi ke stasiun, untuk menjeput Ayah. Beliau baru pulang dari kampungnya. Entah kenapa, kereta dari Jawa Tengah atau Jawa Timur saat tujuan pulang, selalu sampai pada malam hari. Karena faktor itulah Aku dan Ibuku, malam-malam bertolak dari rumah kami yang hangat ke stasiun ini.

     Masih membekas di ingatanku, kala itu. Hawa stasiun ,serta bangku besi yang terasa dingin. Bunyi kereta yang berseliweran di relnya, kala melintasi stasiun. Aku seperti melihat sisi lain dari dunia kala malam. 

     Di usiaku yang masih muda, Aku hanya mengerti cara meminta uang kepada orang tua. Sedangkan mendapatkan uang tak semudah yang ku bayangkan sebelumnya. Di stasiun ini, ku temukan alasan kenapa mencari uang begitu susah. 

     Di stasiun ini, berbagai macam orang berkumpul. Dari tukang parkir sampai tukang kebersihan di stasiun. Belum lagi, di luar stasiun. Para driver ojek online maupun tradisional, berkumpul membentuk koloninya. Padahal jika ku lihat jam tanganku, waktu menunjukan pukul 12.22 am. 

    Aku selalu berfikir, apakah anak dan istri mereka tidak khawatir jika ayah atau suaminya belum pulang dari pekerjaaan mereka. Adakah???

    Aku selalu bersyukur, aku baru menginjak usia remaja. Yang masih hidup di dunia cinderella. Walaupun seperti dibohongi dunia. Tapi, kita remaja akan belajar dan di uji, bahwa ketika dewasa nanti kita akan tau bahwa dunia sangat kejam.

    Mungkin karena malam itu Aku ke stasiun, baru ku sadari di saat orang lain terlelap, ada beberapa orang yang masih mencoba mencari uang untuk keluarganya. Tentunya mereka bekerja pekerjaan yang halal dan baik.